Demokratisasi dan Humanisme Historiografi Indonesia

PENDAHULUAN

Saya merasa sangat terhormat berada disamping Guru Besar Sejarah dari UGM Pak Bambang Purwanto dan juga Ketua Jurusan sekaligus Dosen saya waktu kuliah. Jadi kalo boleh saya sebut, Pak bambang ini sebagai Eyang Saya, dan Pal Purnawan sebagai Bapak, karena apa ternyata Pak Purnawan merupakan mantan mahasiswa Pak Bambang waktu di UGM, dan Pak Purnawan adalah Dosen Saya. Kalo dalam budaya Jawa, seorang cucu tidak boleh macam-macam pada eyang ataupun pada orang tuanya, mungkin saya termasuk cucu yang agak nakal karena pada kesempatan ini dipaksa untuk menjadi pembahas dalam bedah buku Gagalnya Historiografi Indonesiasentris ?! karya Pak Bambang.

Secara jujur saya sampaiakan bahwa sya ditawari untuk menjadi pembahas bedah buku ini adalah kemaren siang ketika pembahas Faishal tidak dapat mengisi karena ada kesibukan lain,dan saya ditawari untuk menggantikannya, karena kalo hanya satu pembahas kurang menarik dan waktunya terlalu pendek.
Pertama mungkin saya tidak pede karena saya belum apa-apa dibandingkan beliau, namun saya akan mencoba untuk melihat dan membahas apa yang telah ditulis oleh beliu berdasar perspektif saya sebagai mantan mahasiswa sejarah yang baru lolos kuliah jurusan Ilmu Sejarah Unair.

Buku gagalnya historiografi indonesiasentris ?! merupakan bentuk penegasan dari buku yang sebelumnya sebelumnya “Menggugat Historiografi Indonesia”, mungkin karena telah digugat dan tidak ada jawaban maka akhirnya divonis gagal oleh pak Bambang. Yang bukunya sama-sama diterbitkan oleh Ombak.

Ketika berbicara tentang buku menggugat Historiografi Indonesia, ada tiga point yang coba dikemukakan oleh Pak bambang, pertama sejarawan indonesia belum dapat merumuskan model historiografi indonesia, kedua ketidakmampuan sejarawan menjawab persoalan kekinian, dan ketiga belum pahamnya konsep-konsep sejarah oleh para sejarawan akademik sehingga memunculkan disorientasi, maka dibuku tersebut terdapat solusi untuk menjawab ketiga persoalan diatas, secara grandesign memunculkan sejarah alternatif sehingga dengan solusi tersebut akan membangun masyarakat yang demokratis, memiliki kepercayaan, menerima multikulturalisme, tidak ada diskriminasi, serta tidak memungkiri perbedaan.

DEKONSTRUKSI HISTORIOGRAFI INDONESIA ala PAK BAMBANG PURWANTO

Belum lagi persoalan-persoalan itu dijawab dan diaplikasikan, sudah muncul buku yang secara tegas mengatakan gagalnya historiografi indonesia sentris?! Kenapa bisa gagal? Sampai sekarang belum ada model dan format yang tepat untuk menjelaskan historiografi indonesiasentris. Buku ini merupakan otokritik terhadap historiografi indonesia, kenapa saya sebut sebagai otokritik, karena yang melakukan kritik justru orang dari daam lingkup akademisi sejarah sendiri, bukan dari kalangan luar. Ini merupakan bentuk kesadaran dan tanggungjawab dari sejarawan akademisi agar kajian sejarah menemukan formulasi historiografi indonesiasentris secara ilmiah di lingkup akademisi.
Point yang dapat saya tangkap dari buku gagalnya historiografi indonesiasentris?! untuk menampakan wajah historiografi Indonesia setidaknya perlu kesadaran dekonstruksi historiografi, seperti dan merupakan kelanjutan buku menggugat historiografi Indonesia, maka ditawarkan altenate history, alternate history ini muncul sebagai jawaban terhadap tema-tema yang tidak pernah ada dalam historiografi indonesia yang ditulis oleh sejarawan Indonesia. Belakangan ini telah muncul totale history yang dikembangkan oleh Fernand Breudel dan pengikutnya dengan jurnal Analesnya, tawaran History from Bellow, atapun gagasan yang muncul dari India dengan Subaltern History. Kalaupun kita mau gagah-gagahan dengan menciptakan alternatif sendiri karena budaya kita kan paling kreatif memilih diksi, padahal scara subtantif sama dengan yang telah ada di Luar negeri.

Munculnya historiografi tentang Indonesia justru diawali oleh sejarawan-sejarawa dari laur, baru sejarawan Indonesia dengan latah mengikuti penulisan berdasarkan tema tersebut. Dan berdasarkan hal ini kadang karya sejarawan Indonesia tentang tema yang tidak populer tidak diabaikan. Seperti tentang tuyul, atau pembauran etnis Tionghoa, jauh sebelum sejarawan Luar menuli tema tersebut, Onghokham pernah menulis ini, hanya saja karyanya tidak populer. Tema penulisan yang benar-benar menampakkan kondisi masyarakat indonesi masa lampau belum pernah ditemukan dalam historiografi Indonesia (socially important), karena selama ini karya historiografi yang memenuhi rak perpustakaan dan toko buku lebih banyak tentang narasi besar dan bersifat umum. Namun sekarang sudah mulai banyak hasil skripsi, tesis, maupun desertasi sejarah yang mulai diterbitkan meski isinya belum dapat dikatakan spektakuler.

Terkait dengan masalah sentrisme, menurut saya adalah persoalan kepentingan dari siapa yang menjadi centrum saat itu, jadi dapat juga dikatakan sebagai negasi dari sentris sebelumnya, ketika van Leur mengungkapkan “observed from the deck of the ship, the rampart of the fortress, the high gallery of the trading house “(van leur 1955:261) sebagai bentuk perspektif penulisan sejarah indonesia dari Nerlandosentris, maka setelah Indonesia merdeka perlu dirumuskan sejarah Indonesia yang indonesiasentris, menurut Sartono Kartodirdjo ada tiga hal dalam penulisan historiografi indonesiasentris pertama the central place of role (pusat pemegang peranan) baik pada level orang indonesia secara kelompok maupun individu, maupun perseorangan, kedua sistem, institusi, tradisi serta jondisi sosial budaya di Indonesia, dan ketiga even (peristiwa), prosesual dan strutur yang terjadi di indonesia.

Kalau ukuran-ukuran tersebut sebagai patokan dan standarisasi historiografi indonesiasentrisme maka hasilnya adalah negasi dan didalamnya hanya akan terdapat pendisposisian terhadap subyek pelaku sejarah Indonesia, yang semula pemberontak menjadi pahlawan, begitu pula sebaliknya. Dan ironisnya ketika sejarawan Indonesia menuliskan sejarahnya sendiri masih terjebak pada penegasian diksi konsep-konsep yang dibangun dalam historiografi nerlandosenris. Seperti diungkapkan oleh pak bambang dalam buku ini semangat nasionalisme dan propaganda doktrinasi nasionalisme oleh tokoh-tokoh nasional masa revolusi masih mewarnai historiografi Indonesia sekarang ini. Seperti diksi bahwa penjajah belanda kejam, mengekploitasi rakyat Indonesia, dll terus mewarnai karya-karya sejarah.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kritikan dan solusi dari pak bambang ini secara sustansial dapat membangun historiografi indonesia baru? Kalau kita baca buku ini maka banyak sekali kritikan-kritikan terhadap karya-karya sejarah yang ditulis oleh sejarawan-sejarawan Indonesia. Hal paling dikritik adalah permasalah konten yang belum bisa mencerminkan dan menampakkan wajah sewajarnya dari realitas masyarakat, atau istilah pak bambang socially important. Kalau hal ini yang menjadi perdebatan maka secara substansial tidak akan membentuk historiografi indonesiasentris. Karena apa, solusi-solusi yang ditawarkan adalah sebatas persoalan tematik dan metodis, tema perempuan yang sewajarnya belum ditulis, tentang hal-hal yang gaib belum ditulis, proporsi dan citra hindu, budha, islam maupun agama-agama lain dalam historiografi indonesia belum ditulis, dan secara metodis belum banyak diungkap tentang sejarah lisan (oral histori).

Bahkan tawaran-tawaran yang disampaian secara agak panjang lebar masih berkutat pada persoalan narasi besar terkait bagaimana membangun kemunculan nation dan nasionalisme Indonesia. Dari persoalan historiografi masa kerajaan Jawa, VOC, pemahaman nasionalisme, militer dan legitimasi, serta tragedi 1965. Kalau mau konstan memperjuangkan Altenate History tidak diuraikan saja tentang persoalan-persoalan tematis dan metodis seperti diungkap pada bab I. Bab-bab berikutnya justru mengungkapkan narasi-narasi besar yang selama ini sudah umum.

GRAND DESIGN HISTORIOGRAFI INDONESIASENTRIS

Bagaimaakah kita harus bersikap, secara tema besar maka saya mengusulkan adanya demokratisasi dan humanisme dalam historiografi Indonesia.
Dalam demokratisasi perlu adanya perspektif dan sudut pandang yang heterogen terhadap sebuah persoalan yang dibahas. Taruhlah saja pembahasan tentang kontroversi G 30 S atau G 30 S/PKI, yang saat ini masih menjadi polemik dan perdebatan sejarawan. Kontroversi ini muncul terkait pertama dalang dari peristiwa tersebut, kedua dampak-dampak yang muncul setelah peristiwa tersebut yang akhirnya terdapat korban. Narasi yang dibangun selama masa Orde Baru, pelaku dan dalang gerakan tersebut adalah PKI dan korban-korbannya adalah dewan jenderal yang akhirnya memunculkan sosok pahlawan tunggal Jenderal Soeharto, kemudian setelah Soeharto lengser, mulai muncul tulisan-tulisan yang mengemukakan berbagai macam versi tentang pelaku gerakan 30 September. Serta lebih banyak karya-karya dari sisi korban dalam hal ini yang dicap sebegai PKI, istilahnya ingin menerbitkan buku putih atas peristiwa tersebut karena selama Orba telah terzalimi dengan cap tersebut yang berakibat luas segala aspek kehidupan. Disinal peran sejarawan dituntut untuk melihat peristiwa tersebut dari perspektif lain, bukan permasalahan pendisposisian pelaku dan korban tetapi rentetan peristiwa dan struktur peristiwa 1965 tersebut. Karena selama ini yang menjadi polemik adalah efek sesudah peristiwa tersebut terjadi karena menyangkut ribuan nyawa melayang.

Yang kedua humanisme, meurut Fernand Breudel, kajian sejarah adalah menyangkut kelompok manusia, bukan seorang manusia sebagai individu. Dalam hal ini historiografi indonesia harus mampu untuk menempatkan relasi-relasi dalam interaksi manusia beserta apa yang telah dihasilkan dengan adanya interaksi tersebut. Ini kemudian yang akan menempatkan tulisan sejarah dapat menempatkan subyek sejarah pada posisi yang sewajarnya dan sepantasnya. Sehingga dari sini akan muncul karya-karya sejarawan yang tidak hanya menempatkan narasi besar sebagai bahan, tetapi juga meliputi underside naration, ini pula yang akan menjawab perdebatan tentang perlu tidaknya “rebonding sejarah”

Pembenahan dan dekonstruksi sejarah akan lebih mencapai substansial jika dapat merumuskan 4 hal, pertama pada level filsafat, persoalan-persoalan filsafat sejarah terkait definisi, gerak sejarah, kegunaan, penggerak sejarah, subjek,objek, dll, kedua interdisipliner, dalam hal ini terkait juga posisi kajian sejarah dengan ilmu-ilmu lain, bagaimana relasi yang dibangun, ketiga metodologi dan metode, dan terakhir keempat penulisan. Agar penulisan historiografi lebih membumi dan dapat dibaca oleh masyarakat luas (selama ini hanya khusus untuk kalangan akademisi saja/ bahasa bodohnya adalah karya sejarah dibuat sejarawan, dibaca sejarawan, dan dikritik oleh sejarwan, sehingga tidak mampu menjawab tantangan persoalan zaman, maka ungkapan yang tepat adalah sejarawan berada di menara gading) maka perlu strategi, yaitu secara tematis dapat mengcover hal-hal yang belum ada dalam historiografi Indonesia, mupun media penyampaian baik dalam hal pedagogiknya maupun bahasa yang digunakan sehingga mudah dipahami masyarakat. Inilah tantangan sejarawan yang sebenarnya. Saya sepakat dengan Fay (Hilmar Farid) saat bedah buku yang sama di FIB UI yang mengatakan sejarah harusnya mampu menjadi kritik sosial maupun kritik politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s