IRONI PAHLAWAN DALAM BUNG KARNO

Meskipun peringatan Hari Pahlawan 10 November telah berlalu, namun momentum kepahlawanan senantiasa tak lekang oleh waktu dan tak kenal momentum. Malah penyebutan pahlawan Penulis tidak bermaksud untuk mengajak pembaca melakukan refleksi tentang tindakan-tindakan heroik yang dilakukan oleh para penjuang kita, juga tidak bermaksud untuk hanya sekedar meramaikan suasana penanaman nilai-nilai perjuangan para pahlawan terdahulu. Ini hanyalah sekelumit kisah seorang pahlawan besar yang terkena dampak colective historical amnesia seperti diungkapkan oleh Asvi Warman Adam dari LIPI.

Pahlawan dan Pemberontak
Warisan penanaman nasionalisme kita (bahkan di negara manapun) mengajarkan adanya dua kubu yang disebut pahlawan dan pemberontak. Kubu atau pihak yang segaris dan mempunyai sumbangan sesuai dengan keinginan penguasa dikukuhkan sebagai pahlawan nasional, sementara mereka yang berseberangan bahkan melakukan penyerangan pada penguasa disebut pemberontak. Jadi di sini pemakaian dua kata tersebut disesuaikan dipihak mana ia berada.
Meskipun sub judul yang penulis buat pahlawan dan pemberontak bukan lantas memposisikan Bung Karno sebagai seorang Pahalawan pada satu pihak, dan pemberontak di pihak lain. Tidak akan sama kasusnya dengan Pangeran Diponegoro, yang dianggap pemberontak oleh Belanda dan merupakan pahlawan bagi Indonesia. Memang secara eksplisit tidak disebut sebagai pemberontak, namun pemerintahan sesudahnya memperlakukan layaknya seorang pemberontak. Hadiah dan penobatan sebagai Pahlawan Nasional ternyata tidak disertai dengan perlakuan yang layak layaknya pahlawan.
Isu Track record Bung Karno menjelang akhir karir politiknya ternyata merusak seluruh citra baik yang dibangun sejak ia melontarkan gagasan yang tertuang dalam artikel “ Nasionalisme, Islam, dan Marxisme” tahun 1926, kemudian merumuskan ajaran Marhaenisme, serta pendirian PNI tahun 1929 sampai “penyerahan” SUPERSEMAR tahun 1966 yang kalau dihitung sekitar 40 tahun mudah dihapus dengan satu peristiwa tahun 1965 yang dikenal dengan Gerakan 30 September (G30 S). Bung Karno diklaim sebagai salah satu orang yang ikut terlibat dalam aksi tersebut, dan dengan alasan tersebut aktifitas politik sampai kehidupannya “dipenjara”.
Ir Soekarno merupakan sosok yang fenomenal. Sepak terjang dan sumbangan bagi negara ini boleh dikatakan sangat mencolok. Dominasi politik maupun rancangan arsitekturnya (dalam arti kiasan maupun yang sebenarnya) membangun Indonesia menjadikan ia sebagai satu-satunya arsitek Indonesia paling berhasil mengubah wajah sejarah Indonesia. Bahkan setelah kepergiannya untuk menghadap sanga Khalik masih bisa merubah sejarah Indonesia.
Informasi kehidupan dan biografi tentang Bung Karno saat ini sudah membanjiri toko-toko buku. Dari yang mengagung-agungkan sampai yang menghujat, dari penulis kenamaan sampai tak bernama, dari penulis dalam negeri sampai Indonesianis luar negeri tersedia semua, jadi di sini tidak akan penulis ceritakan kembali bagaimana perjalanan Bung Karno meniti karir dan kehidupannya.
Menurut catatan penulis, ada beberapa sumbangan Bung Karno bagi bangsa Indonesia. Pertama, sumbangan bagi kancah politik, mengenalkan cara-cara modern dalam usaha melawan penjajahan. Model perjuangan angkat senjata ternyata tidak cukup untuk merdeka dari penjajah, maka perlu adanya angkat wacana pemersatu dan ini salah satunya dilakukan oleh Bung Karno.
Kedua, sumbangan penataan tata kewilayahan, karena memang dasar keilmuan Bung Karno adalah arsitek maka ini diaplikasikan dalam menata ruang-ruang wilayah di Indonesia, bukti paling mencolok dapat dilihat ketika datang ke Kota Jakarta. Kota ini menjadi perwujudan hasil rancangan Bung Karno. Serta rancangan arsitektur di kota lain.
Ketiga, penggalangan simpati dari Luar Negeri, malahan Bung Karno menjadi tokoh penting sebagai pemrakarsa terbentuknya Negara-Negara Non-Blok. Inilah kemudian yang menempatkan Indonesia sebagai negara yang diakui di tingkat Internasional sebagai negara merdeka. Maka ketika terjadi agresi militer Belanda I dan II ini menjadi dukungan penting bangsa Indonesia.
Keempat, bersama dengan para pendiri bangsa merumuskan konsep dasar negara Indonesia. Dimana di dalamnya terdapat semangat persatuan di atas semua golongan, agama, dan suku bangsa.
Dari sekian banyak sumbangan bagi bangsa tersebut tidak dapat dipungkiri terdapat beberapa catatan hitam kehidupan pribadi. Nampaknya ini tidak mengurangi kehebatannya dalam merancang sekaligus mengemudikan bangsa Indonesia. Namun sayang, karir politik dan akhir hidupnya sangat tragis. Menjelang kejatuhannya banyak dihujat dan akhirnya di asingkan. Tanpa melihat sumbangan dan hasil rancangan bagi bangsa ini. Pembunuhan karakter terhadap tokoh yang pernah dinobatkan sebagai Presiden seumur hidup oleh MPRS ini telah masuk dalam kognisi generasi Orde Baru. Sebagai akibatnya dialah pahlawan yang (di)lupakan korban colective historical amnesia.
Bahkan serpihan-serpihan bukti jejak sejarah yang pernah melekat pada dirinya tidak mendapatkan perhatian layak. Tempat-tempat yang pernah dijadikan sebagai singgah hidup untuk menempa ilmu tidak terurus. Ini membuktikan kenangan terhadap pahlawan proklamator sebatas kenangan nama. Malahan akibat jiwa petualang cinta yang dimiliki playboy Indonesia ini mendapat wacana yang tidak baik. Namun bukan Soekarno kalau kalah tehadap wacana ini.
Makanya sunggung enjadi ironi tersendiri, ketika Bung Karno melontarkan ungkapan yang paling terkenal “JASMERAH” jangan sekali-kali melupakan sejarah. Malah ia sendiri yang dilupakan oleh sejarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s