Permainan Anak Tradisional Tergusur Zaman

Lir ilir , lir ili
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak senggung tematen anyar,…….

Sepenggal bait lagu dolanan anak tradisional yang sudah sangat asing ditelinga anak-anak zaman sekarang. Lagu itu mengingatkan pada kenangan memori para orang tua tentang masa lampau mereka sewaktu masih kecil. Terutama yang tinggal di pedesaan.
Tiap malam bulan purnama semua anak baik laki-laki maupun perempuan keluar rumah menuju tanah yang lapang. Mereka akan menghabiskan malam yang terang oleh bulan purnama dengan segala keriangan dan keceriaan khas anak-anak. Maklum pada masa itu listrik belum ada. Mereka dengan segenap energi akan memainkan segala permainan sepanjang malam sampai capek. Dan orang tuapun tidak melarang mereka untuk bermain, bahkan kadang orang tua ikut juga bermain.
Segala bentuk permainan yang populer pada waktu itu spereti betengan, patil lele, gobag sodor, bekelan, jamuran, congklak, dan permainan tradisional lainnya menjadi permainan yang wajib dilakukan. Ada juga yang hanya sekedar mendendangkan lagu-lagu dolanan semacam jamuran, pucung¸ cublak-cublak suweng,atau lir ilir, dan lain-lain. Intinya pada malam itu yang ada hanya kegembiraan dan keceriaan khas anak-anak.
Pada dasarnya manusia adalah mahkluk bermain (homo luden). Bermain tidak dapat dilepaskan dari aktualisasi dan ekspresi seseorang. Permainan anak tradisional merupakan hasil budaya daerah yang mengandung nilai-nilai edukatif, terapis, rekreatif, normatif, kreatif, dan lain-lain yang mengajarkan pada penanaman nilai-nilai edukatif. Selain itu juga merupakan warisan yang disosialisasikan secara turun temurun.
Bebagai dampak, fungsi, maupun manfaat dari permainan anak tradisional sebenarnya dapat digunakan sebagai media edukatif yang paling ampuh dalam menanamkan nilai-nilai moral, kepedulian sekitar (simpati dan empati) serta transformasi pengetahuan. Bahkan pada masa revolusi permainan anak juga menjadi salah satu media perjuangan bagi anak-anak.
Pada masa Orde Baru, perkembangan anak secara tidak langsung juga menjadi alat kampanye yang ampuh bagi pendidikan pembangunan, dimana mulai muncul permainan rumah-rumahan yang menerapkan sistem KB, dokter-dokteran, insinyur-insinyuran, atau permainan lainnya yang merepresentasikan berbagai profesi sebagai tujuan dan cita-cita pembangunan. Dari sini anak akan mulai belajar terhadap apa isi yang ada dalam permainan tersebut yang secara tidak langsung akan mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak.
Nostalgia berakhir ketika sampai pada kondisi sekarang. Segala permainan anak tradisional yang sarat nilai edukatif tersebut tidak lagi ditemukan di Nusantara terutama belantara kota. Semua yang berbau tradisional terlah digusur oleh permainan modern, dari komputer dengan multiplayenya, sampai playstation seri 2.
Ada beberapa faktor penyebab hilangnya permainan anak tradisional ini, pertama sarana dan tempat bermain tidak ada, kedua adanya penyempitan waktu, terlebih lagi semakin kompleknya tuntutan zaman terhadap anak yang semakin membebani, ketiga terdesak oleh permainan modern dari luar negeri dimana tidak memakan tempat, tak terkendala waktu baik itu siang hari, pagi, sore ataupun malam bisa dilakukan, serta tidak perlu menunggu orang lain untuk bermain.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah akibat terputusnya pewarisan budaya yang dilakukan oleh generasi sebelumnya dimana mereka tidak sempat mencatat, mendata, dan mensosialisasikan sebagai produk budaya masyarakatnya kepada generasi dibawahnya. Budaya instan yang sudah merasuk pada setiap anggota masyarakat sekarang juga memberikan sumbangan hilangnya permainan tradisional. Kita selalu terlena oleh budaya cepat saji, yang penting sudah tersedia dan siap “dimakan “ tanpa harus melalui proses.
Mengapa permainan anak tradisional ini perlu dilestarikan? Sebuah pertanyaan yang tidak lagi relevan dengan budaya globalisme dan modern tentunya. Karena kita sudah terbiasa melihat sesuatu yang telah berlalu sebagai hal yang kadaluarsa atau basi. Bahkan banyak anggapan hal ini bertentangan dengan mode pembangunan menuju zaman modern. Semua orang seolah-olah tidak ambil pusing dengan persoalan ini, mungkin para budayawan atau para pakar saja yang mengurusi.
Nilai-nilai, makna, manfaat serta warna lokal yang terkandung dalam permainan anak tradisional inilah pondasi dasar pembangunan yang semestinya harus kita gali dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan kebutuhan zaman. Bukan berarti kita secara apa adanya mempraktekan permainan anak seperti apa adanya pada masa lalu, tentu sangat tidak efisien. Namun apa yang diajarkan dan menjadi kandungan budaya itulah yang perlu kita lestarikan.
Permainan anak tardisional diwariskan secara turun temurn dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan bahwa permainan tersebut mengandung makna edukatif yang mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang terkonversi dan terkodifikasi dari nilai-nilai moral etika yang dianut oleh masyarakatnya. Dapat juga dikatakan befungsi untuk mempertaankan nilai-nilai dengan cara memasukkan makna dalam berbagai sifat, bentuk, dan jenis permainan.
Terobosan-terobosan yang dapat dilakukan secara nyata dapat dilakukan melalui pertama memasukkan dalam kurikulum sekolah dasar sebagai pembentuk jiwa anak. Anak cenderung lebih mudah memahami sesuatu yang diajarkan melalui media permainan, daripada hanya mendengarkan guru ceramah dan siswa disuruh mencatat.
Kedua para pakar dan ahli budaya menciptakan bentuk kreasi baru dari permainan tradisional sehingga tidak dikatakan sebagai ketinggalan zaman, penulis sangat terkesan oleh pakar seni yang mampu menciptakan kreasi baru baik dalam bentuk dolanan maupun tembang dolanan anak dalam kemasan baru dan bernuansa kekinian.
Ketiga peran serta masyarakat dalam upaya sosialisasi kampanye kembali pada budaya sendiri, karena kajian-kajian mapun penelitian-penelitian tentang permainan anak tradisional tidk akan bermanfaat tanpa dipraktekkan dan didukung oleh masyarakat. Akhir-akhir ini mulai banyak festival-festival dolanan anak tradisional, namun hal ini belum cukup untuk mengangkat nilai-nilia yang terkandung tanpa partisipasi semua kalangan.
Jika kepedulian terhadap kekayaan budaya tidak pernah terlintas dalam pikiran kita, bahkan membiarkan ia terkubur oleh arus modernisasi dan gedung-gedung pencakar langit. Pada suatu waktu nanti ia akan dikenang sebagai sesuatu yang pernah dimiliki oleh nenek moyang kita dan hanya menjadi kajian para sejarawan, budayawan, maupun antropolog.

2 thoughts on “Permainan Anak Tradisional Tergusur Zaman

  1. Yups, setuju sekali dengan ide di atas. Saya sendiri baru mendata, mengumpulkan, dan mendeskripsikan permainan-permainan tradisional yang dulu saya pernah mainkan dan masih ingat di pikiran. Tujuannya agar paling tidak ada rekaman ‘dolanan-dolanan’ itu. Berharap bila terbaca generasi mendatang masih bisa dipahami dan dipraktekan. Saya berharap bisa mengembangkan kegiatan itu untuk merangkum wilayah yang lebih besar, dan menghasilkan sesuatu yang bisa langsung terap. Do you have some idea about it??

  2. selamat sore,,bisa bantu saya…saya sedang tugas akhir dg topik dolanan tradisional untuk dibuat menjadi buku…isa bantu saya yntu interview atw data tentang dolanan??reply ke email saya yah matur suwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s