SAYYID DAN SYECH: SELAYANG PANDANG DINAMIKA KOMUNITAS ARAB DI SURABAYA

Ditengah keramaian pembangunan kota metropolitan Surabaya, ternyata masih menyisakan kawasan-kawasan lama dengan kebudayaan dan ciri khas yang identik dengan masyarakat pendahulunya. Kawasan ini memiliki irama dan budaya yang secara kasat mata berbeda dengan budaya kawasan maupun kelompok masyarakat lain di Surabaya.

WARISAN SEJARAH: Asal Usul dan Stereotip

Orang keturunan Arab merupakan minoritas penduduk di kota-kota Indonesia termasuk Surabaya. Sepanjang sejarah masuknya Islam di Jawa maupun Nusantara, orang-orang Arab ini hidup terkonsentrasi pada daerah perkotaan. Hal ini ada kaitannya dengan teori yang mengatakan bahwa penyebaran agama Islam melalui jalur perdagangan. Terlepas benar tidaknya teori tersebut, yang jelas sisa-sisa sejarah mengungkapkan bahwa pemukiman orang-orang keturunan Arab di kota manapun di Indonesia selalu dekat dengan pusat perdagangan antar wilayah.
Pemukiman dan tempat kediaman “orang Arab” sudah ada sejak sebelum kedatangan orang-orang Eropa, lebih tepatnya bersamaan dengan proses Islamisasi Jawa dan Nusantara terutama di bandar-bandar perdagangan sepanjang pantai. Pendatang yang disebut sebagai orang Arab ini sebagian besar berasal dari daerah Yaman dan Oman, terutama dari Hadramaut, dan sebagian kecil berasal dari teluk Parsi, Hijaz, atau dari Afrika Utara. Agar lebih mempermudah, asal keluarga dan marga dari keturunan Arab yang ada di Surabaya ini dapat dilihat dari nama keluarga dibelakang nama orang. Penyebutan orang (keturunan) Arab ini sebetulnya telah melekat pada komunitas orang-orang keturunan Arab yang berada di kawasan Ampel sejak kedatangan mereka pertama kali.
Berbeda dengan etnis keturunan lainnya seperti Tionghoa, keturunan Arab ini secara kultural, sosial, maupun politis lebih mudah diterima oleh penduduk pribumi. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemiripan keyakinan agama sehingga tidak lagi dianggap sebagai orang asing. Meskipun pada masa pemerintahan Hindia Belanda terjadi pembatasan kelas yang melebarkan jarak antara pribumi dengan golongan kelas dua yang terdiri dari Vreemde Oosterlingen (Timur Asing) namun ada pengecualian terhadap keturunan Arab ini. Seolah-olah batasan kelas penduduk yang dibuat oleh Belanda tersebut tidak berfungsi sebagai pemisah antara pribumi dan Arab. Berbeda halnya hubungan antara Tionghoa dan Pribumi yang dampaknya masih berbekas sampai sekarang dengan adanya diskriminasi.
Pemusatan pemukiman bagi orang-orang Timur Asing sebagai tindak lanjut kebijakan penggolongan penduduk ini menyebabkan orang-orang keturunan Arab memiliki pemukiman yang mengelompok. Kawasan Ampel sebagai bekas pusat pengajaran Islam oleh Sunan Ampel dijadikan sebagai tempat pemukiman keturunan Arab ini. Pemilihan tempat ini ada hubunganya dengan masalah keyakinan dan kepercayaan dari orang-orang keturunan Arab yang sebagian besar beragama Islam.
Secara historis, kawasan tersebut merupakan hasil warisan kebijakan Pemerintah Hindia Belanda dengan Regering Regleement tahun 1854 yang membedakan kelompok masyarakat menjadi tiga kelas, Eropa, Timur Asing dan Pribumi. Kebijakan tersebut sebagai upaya memisahkan dan mengisolasikan masing-masing etnis dan kelas yang ada dari arus integrasi dan interaksi dengan kelas-kelas lainnya. Warga keturunan Arab khususnya dikenakan kewajiban atas pemberlakuan kebijakan wijkenstelsel dan passenstelsel (surat jalan untuk meninggalakan wilayah kelompok).
Tujuan pemberlakuan kebijakan ini secara umum adalah untuk memisahkan orang-orang Arab dengan pribumi dan menempatkan mereka kedalam semacam ghetto (tempat pemusatan pemukiman yang bersifat rasial). Tindak lanjut dari pengawasan dan pengelompokan pemukiman ini kemudian ditunjuk seorang Kapiten Arab yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup dan pengawasan terhadap warga Arab yang ada di daerahnya.
Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, setiap orang Arab yang akan meninggalkan atau keluar dari wilayah (ghetto) mereka di kawasan Ampel harus memiliki izin dan paspor jalan dari pemerintah Belanda. Sisa-sisa kebijakan yang diterapkan oleh orang-orang Arab dan keturunannya masih berbekas dan kelihatan sampai sekarang. Warisan tersebut secara kasat mata dapat kita nikmati dengan adanya pemukiman di sekitar Masjid Ampel yang masih didominasi oleh orang-orang keturunan Arab. Bahkan perkembangan dan pertambahan penduduk saat ini tidak menyurutkan mereka untuk memperluas wilayah pemukiman.
Pada saat ini konsentrasi pemukiman masyarakat keturunan Arab di Surabaya terpusat di kawasan Ampel terutama secara administratif meliputi daerah kelurahan Ampel dan Nyamplungan. Apabila dirunut dari sejarah, konsentrasi pemukiman ini telah terjadi sejak pemberlakuan sentralisasi penduduk berdasarkan kelas etnis. Keturunan Arab sebagai kelas Timur Asing menempati daerah di sebelah Timur Jembatan Merah, dan memusat di sekitar Masjid Ampel yang sekarang berada di wilayah administratif kelurahan Ampel. Sebagai gambaran, data monografi kelurahan Ampel akhir tahun 2006 tercatat 4.137 orang. Jadi kalau di telusuri lebih jauh, jumlahnya akan lebih banyak lagi karena mayoritas penduduk merupakan keturunan Arab.
Total penduduk di kelurahan Ampel saat ini sebanyak 22.234 orang. Perhitungan jumlah penduduk ini berdasarkan pada status kewarganegaraan, sedangkan kalau ditelusuri melalui marga akan terlihat sebagian besar diantaranya adalah keturunan Arab. Dirunut kebelakang, ternyata menurut catatan dari von Faber dalam buku sejarah Surabaya Nieuw Soerabaja, tahun 1880-an diperkirakan terdapat sekitar 1.200 orang Arab yang berada di Surabaya, dan jumlahnya bertambah pesat sampai tahun 1930-an tercatat tidak kurang dari 5.000 orang. Jumlah ini merupakan perhitungan kasar dan tidak mencantumkan angka yang pasti.
Proses kedatangan orang-orang dari Hadramaut ini diperkirakan sejak abad XIII dan hampir semuanya adalah laki-laki. Asal-usul keluarga masih tetap dipertahankan sampai saat ini, karena ternyata marga menentukan bagaimana anggota keluarga dalam suatu keompok keluarga berinteraksi, menjalankan ibadah, beraktifitas sehari-hari dan sebagainya. Marga atau dalam komunitas keturunan Arab menyebutnya dengan faam dipimpin oleh seorang Munshib namun lebih dikenal dengan Manshabah.
Perkembangan Munshib atau Manshabah ini terutama untuk golongan Alawi mulai muncul pada abad ke-11 dan abad ke-12 Hijriyah (sekitar Abad 18 dan 19 Masehi). Seseorang yang menjabat sebagai Munshib memiliki tugas dalam segala urusan baik agama maupun kemanusiaan. Pemangku jabatan yang diwariskan secara turun-temurun ini wajib mendamaikan suku-suku yang bersengketa, menjamu tamu yang datang, menolong orang yang lemah dan memberi petunjuk pada yang memerlukan. Karena jabatannya, tidak jarang para Munshib ini mengorbankan harta dan kepentingan pribadinya. Namun sekarang telah mengalami penurunan fungsi bahkan mulai hilang.

INTERAKSI SOSIAL

Secara umum terdapat dua kelompok besar orang Arab yang membedakan baik dalam hal interaksi, ritual keagamaan, kehidupan sehari-hari dan lain-lain didasarkan pada garis keturunan yang menghubungkan dengan Nabi Muhammad SAW terutama melalui keturunan Husain bin Ali. Kelompok yang menganggap sebagai keturunan langsung dari Rasullulah disebut kelompok Alawi atau Bahalwi (Sayyid), sedangkan yang tidak memiliki garis keturunan disebut Qabili (Syech). Dan akibat dari kepercayaan dan idealisme tersebut menyebabkan masing-masing kelompok memiliki sistem pranata sendiri. Secara khusus tidak ada penyebutan yang spesifik bagi golongan Sayyid maupun Syech, namun lebih merujuk pada marga atau kelompok keluarga.
Masing-masing marga atau klan keturunan Arab memiliki penyebutan dan nama keluarga yang antar marga maupun kelompok keluarga ini memiliki karakteristik dan perbedaan baik secara idealogis keyakinan, sosial, budaya maupun dalam hal kehidupan lainnya. Berikut ini nama-nama marga berdasarkan pengelompokan golongan Sayyid dan Syech:

Sayyid ; Afiff, Alatas, Alaydrus, Albar, Algadrie, Alhabsyi, AlHamid, Al Hadaad, Al Jufri, As Segaff, Baaqil, Basyeiban, Binsechbubakar, Jamalulail, Maula Dawileh, Maula Helah, Shahab, Shihab, Thalib

Syech ; Abdul Aziz, Addibani, Alkatiri, Abud, At Tamimi, Ba’asyir, Badjubier, Bafadhal, Bahasuan, Basyaib, Baswedan, Bawazier, Baridwan, Kawileh, Nahdi, Sungkar

Dari kondisi banyaknya nama marga yang ada ternyata secara ideologis, semua ajaran yang berkembang diantara marga yang ada hanya didasarkan pada dua kelompok besar. Bahkan perbedaan-perbedaan mendasar maupun dalam praktek kehidupan sehari-hari selalu didasarkan pada genealogi keturunan Nabi Muhammad. Perbedaan ini juga masuk dalam wilayah hubungan ikatan kekeluargaan, orang-orang dari golongan Bahalwi lebih memiih menikahkan keturunan mereka dengan pribumi daripada dengan golongan dari Syech, sedangkan golongan Qabili (Syech) menganggap bebas untuk mengawinkan dengan kelompok manapun.
Perbedaan golongan ini juga berdampak pada institusi pendidikan. Anak-anak keturunan Arab dari golongan Sayyid lebih banyak disekolahkan pada di At-Tarbiyah, sedangkan untuk golongan Syech lebih banyak disekolahkan di Al-Irsyad. Namun, tidak semua keturunan Arab mengenyam pendidikan pada lingkungan tempat mereka saja karena sekarang sudah banyak yang memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Negeri. Sedangkan pendidikan non-formal terutama untuk masalah keagamaan masih berlangsung di pesantren-pesantren yang kebanyakan berada di luar kampung Arab. Orang-orang keturunan sering menyebut kelompok atau marga lainnya dengan sebutan jama’ah. Dan kosakata ini juga sering dipakai oleh orang pribumi baik Jawa maupun Madura untuk menyebut suatu kelompok orang-orang keturunan Arab.
Hubungan sosial dengan etnis pribumi baik Madura maupun Jawa terjalin dengan baik. Hubungan ini biasanya lebih pada kegiatan yang bersifat duniawi seperti aktifitas ekonomi maupun urusan-urusan administrasi. Sedangkan untuk kegiatan yang bersifat spiritual keagamaan lebih bersifat internal golongan.
Konflik-konflik terkait interaksi lebih banyak pada persoalan golongan, dimana hal ini ternyata tereduksi dalam institusi dan organisasi yang dibentuk. Golongan Bahalwi (dikalangan keturunan Arab Surabaya ada yang menyebutnya sebagai golongan Attarbiyah) lebih dekat pada kultur organisasi massa seperti NU (Nahdlatul Ulama), sedangkan golongan Syech memiliki organisasi yang membawahi segala macam kegiatan dari yang bersifat ritual keagamaan, pelayanan masyarakat, pendidikan, dan kegiatan sosial yang terpusat dalam perkumpulan dengan nama Al Irsyad.
Pergaulan-pergaulan antar anggota lingkungan lebih didasarkan pada kesamaan golongan dan marga, meskipun rumahnya berdekatan tetapi golongan dan marga beda maka hubungan sosialnya agak renggang. Namun demikian justru lebih mudah bergaul dengan orang-orang pribumi, terutama dengan orang-orang Madura yang memang sebagian besar bermukim disekitar kampung Arab untuk melakukan aktifitas ekonomi.

AKTIVITAS EKONOMI

Sebagian besar keturunan Arab memilih untuk berdagang sebagai okupasi mereka. Terdapat kemungkinan bahwa kegiatan ini merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang datang ke Indonesia dengan jalan perdagangan. Meskipun ada juga wilayah okupasi lain yang dijalani oleh keturunan Arab ini, namun prosentasenya sangat kecil, katakanlah seperti politisi, artis, maupun okupasi yang lain. Menurut keterangan dari nara sumber yang memang keturunan Arab, golongan dari Bahalwi lebih pandai dalam hal perdagangan, sehingga mereka lebih maju dan mampu bersaing dalam dunia ekonomi guna memperkuat golongan mereka. Sedangkan bagi golongan diluar itu cenderung hanya melanjutkan bisnis keluarga serta memilih okupasi diluar perdagangan.
Komoditas perdagangan warga keturunan Arab lebih banyak menyangkut aktifitas beribadah seperti kitab agama Islam, buku-buku Islam, busana muslim, minyak wangi, kurma, sarung dan baju taqwa, tasbih, sajadah, dan lain-lain. Sebelum pemakaian keramik oleh masyarakat luas, menjadi alas rumah, dan sebagian besar diproduksi oleh orang Arab. Namun saat ini tergeser oleh kemunculan keramik. Sedangkan komoditas lainnya kurang diminati oleh warga keturunan Arab.
Meskipun aktivitas perdagangan menjadi penopang utama dalam kehidupan ternyata tingkat kekayaan material secara ekonomi tidak serta merta menjadikan sebagai golongan stratifikasi sosial yang tinggi. Di perkampungan Arab bentuk differensiasi lebih didasarkan pada golongan dan marga keluarga. Mereka tinggal dirumah-rumah yang memiliki bentuk dan besar rumah yang hampir sama antar satu rumah dengan rumah tetangganya. Jadi tidak nampak perbedaan secara ekonomi. Akibat ikatan yang kuat dalam satu marga inilah yang menjadikan sikap saling membantu dalam segala hal, namun hal ini tidak berlaku bagi marga ataupun golongan lain. Hal ini muncul karena masing-masing golongan menganggap dirinya sebagai kelompok superior dari kelompok yang lain di internal keturunan Arab. Kecuali menyangkut kegiatan sosial maupun keagamaan melalui organisasi internal golongan mereka sendiri serta ekternal seperti partai politik, organisasi kemasyarakatan, maupun melalui institusi-institusi pemerintahan.
Bisnis yang dijalakan sebagian besar merupakan bisnis warisan keluarga. Meskipun telah meraih gelar dan bersekolah tinggi, pada akhirnya hanya mengurus bisnis yang dijalankan oleh keluarga secara turun temurun. Jika orang tua berdagang kitab, maka anak maupun cucunya akan melanjutkannya. Seperti yang kita lihat di jalan Panggung yang berderet toko-toko kitab dimana dapat kita saksikan bangunan-bangunan lama yang sebagian besar dibangun oleh keluarga generasi terdahulu. Jadi secara umum tidak terjadi gerak pengembangan komoditas perdagangan, dan boleh dikatakan hanya sebatas pada melanjutkan pengelolaan bisnis keluarga agar tetap eksis.
Seiring perubahan waktu, budaya dan pola pikir masyarakat yang berubah seiring semakin majunya pendidikan turut berpengaruh terhadap pola-pola dan aktivitas perekonomian orang-orang keturunan Arab. Perbedaan aktivitas perekonomian dengan masyarakat lainnya semakin tipis.

BUDAYA

Perbedaan yang paling mencolok dapat dilihat dari model pakaian yang dikenakan. Secara umum warga keturunan Arab Attarbiyah dari golongan Sayyid biasanya memakai pakaian yang serba putih dengan model terusan atau yang identik dengan pakaian Arab pada umumnya seperti pakaian zaman Nabi. Sedangkan untuk golongan lainnya terutama dari kelompok Al Irsyad yang merupakan golongan Syech model pakaian yang dikenakan lebih umum dan beragam. Selain model berpakaian, sulit untuk dibedakan kalau tidak teliti dalam melihat.
Orang-orang Arab di Surabaya juga mempunyai mempunyai tadisi budaya tersendiri yang berbeda dengan kebudayaan yang ada di Indonesia. Meskipun demikian, budaya orang Arab di Surabaya tidak ada yang murni berasal dari negeri Arab. Budaya orang Arab, terutama pada generasi kedua (peranakan) telah tercampur dengan kebudayaan masyarakat setempat. Kesenian tari Zaffin bisa kita saksikan hingga sekarang merupakan salah satu bentuk budaya campuran keturunan Arab. Tari Zaffin ini sebenarnya merupakan percampuran antara budaya Arab (terutama Parsi) dan Melayu. Tarian ini diiringi oleh alat musik yang terdiri dari gambus, rebana, gendang, dan marakas atau marawis.
Sedangkan untuk sya’irnya berupa Qasidah yang menjadi cikal-bakal lagu Dangdut. Tarian Zaffin terdiri ari tiga babak yaitu permulaan sebagai pembuka, pecahan atau gerak lenggang tari pada babak kedua, dan tari penutupan. Salah satu ciri khas yang paling nampak dalam gerakan tari ini adalah gerak loncatan-loncatan kaki semacam melakukan pencak silat. Kostum yang dikenakan pada awalnya menurut pakaian melayu, namun sekarang ada kecenderungan menggunakan kostum Arab dengan jubah agar lebih bernuansa Arab.
Pada awalnya, tarian ini khusus dimainkan oleh laki-laki pada setiap acara pernikahan, khitanan, maupun acara-acara keagamaan seperti Maulid Nabi. Namun sekarang siapapun, baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda dapat dan diperbolehkan untuk menari. Budaya lain yang muncul antaranya dalam suatu acara pernikahan terdapat tradisi arak-arakan. Tradisi arak-arakan ini untuk mengantar pengantin juga dilakukan untuk menuju ke pernikahan. Bahkan kalau kita tidak kuat akan pingsan mengikutinya. Bisa juga ada calon pengantin laki-laki yang dikerjain oleh saudara atau kerabatnya. Sedangkan pengantar perempuan hanya dicacar (dilukis tanganya).
Dalam hal pakaian orang Arab tidak mengenal pakaian kebaya adat Jawa. Mereka lebih menggunakan pakaian seperti orang Eropa, laki-laki menggunakan stelan jas dan perempuan pakaian yang panjang. Pada mulanya secara umum orang orang Arab tidak suka terhadap kesenian. Apalagi jika diwujudkan dengan bentuk fisik manusia. Hanya kaligrafi saja yang biasa digemari oleh orang Arab di Surabaya. Sebagian besar orang yang tertarik terhadap seni meskipun tidak banyak yakni dari kelompok Bahalwi.
Seiring dengan perkembangan waktu serta perbedaan pandangan terhadap masalah keduniawian maka anggapan tersebut mengalami pergeseran meski tidak semua mengikuti, seperti yang terjadi pada keluarga Yamani yang suka terhadap musik barat, seni patung, seni lukis orang, bahkan berpakaian layaknya orang Jawa. Dari sinilah akan terlihat bahwa ternyata sebuah budaya tidak bisa berdiri sendiri dan ada sebuah upaya untuk mengkompromikan sebuah budaya yang saling berseberangan.
Bahasa yang digunakan oleh orang Arab kebanyakan adalah bahasa kampong yakni antara bahasa Jawa dan Madura. Ada juga yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian dan percakapan, akan tetapi terlihat medok (bahasa Indonesia berlogat jawa). Jarang sekali orang Arab yang berada di Surabaya menggunakan bahasa Arab. Mereka lebih suka bermain bahasa dengan kata-kata. Akhirnya tanpa tersadar timbul bahasa Arab nyeleneh (bahasa Arab Slank /Arab gaul). Contoh bahasa slengean yang muncul seperti Harem menjadi Sihar untuk menyebut istri, dan Rijal menjadi Ijil.Ada juga orang Arab yang menggunakan bahasa Arab seperti yang dilakukan oleh kelompok Bahalwi
Dalam hal makanan orang Arab, terutama laki-laki, suka terhadap makanan yang berasal dari daging binatang yakni kambing. Kebanyakan yang disenangi adalah kambing jenis gibas. Akan tetapi sekarang banyak juga yang memilih kambing Jawa. Daging biasanya dijadikan krengsengan dan juga gulai kacang hijau. Makanan khas yang terkenal di kampung Arab adalah Nasi Kebuli dan Roti Maryam. Setiap harinya, kedua makanan khas itu selalu tersedia di rumah. Selain itu, nasi kebuli dan roti maryam banyak dijual disekitar kampung Arab.
Ada suatu hal yang mungkin perlu dicatat yakni berkenaan dengan daging kambing. Orang Arab suka daging-dagingan bukan tanpa sebab. Secara gizi dan kandungan yang terdapat pada daging kambing bisa menambah kegarangan dan vitalitas laki-laki. Maka dari itu orang Arab selalu menyediakan daging kambing setiap harinya. Sedangkan untuk perempuan cukup dengan sayur lodeh, sayur asem. Jadi tidak ada suatu ciri khas tertentu untuk makanan perempuan.
Anggapan dan pengetahuan tentang orang-orang keturunan Arab di Surabaya ternyata tidak dapat disamaratakan. Meskipun memiliki fenotif dan akar sejarah yang sama ternyata memiliki pandangan dan hasil tindakan yang berbeda dalam internal komunitas keturunan Arab. Meskipun secara umum semua perbedaan bermuara dari perbedaan golongan dengan didasarkan pada masalah keturunan dengan Nabi Muhammad SAW yang akhirnya sampai kesendi-sendi baik masalah keyakinan dan pandangan hidup, interaksi sosial, maupun budaya namun tidak sampai menimbulkan konflik sosial.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengungkit-ungkit perbedaan yang ada dalam komunitas keturuan Arab, namun berusaha untuk melihat sebenarnya bagaimana kehidupan kemsyarakatan dan segala bentuk hasil aktifitasnya. Sehingga dari sini kita dapat memahami bahwa perbedaan bukan dijadikan sebagai alasan untuk saling menyalahkan tetapi bagaimana kita dapat saling menghormati dan menghargai diantara kita. Tanpa memiliki pretensi apapun, ternyata kita memiliki keragaman dan keunikan gaya hudup bermasyarakat beserta perilaku masyarakatnya.

14 thoughts on “SAYYID DAN SYECH: SELAYANG PANDANG DINAMIKA KOMUNITAS ARAB DI SURABAYA

  1. salam kenal,

    saya tidak sengaja menemukan blog anda ini, dan menurut saya menarik sekali. saya sendiri adalah keturunan arab yang tergolong dalam marga non sayyid atau qabili.

    saya tertarik sekali dengan statement anda mengenai masalah pernikahan dimana golongan bahalwi lebih memilih menikahkan putra dan putrinya dengan golongan pribumi (dan pastinya sesama bahalwi) ketimbang dengan golongan qabili.

    apakah anda menemukan alasan khusus mengenai asal muasal budaya sosial ini? sampai sekarang saya mencari alasan yang masuk akal, namun blom ketemu.

    apabila anda mempunya jawaban atau bahkan teori sendiri yang menurut anda benar, saya akan berterima kasih sekali apabila bisa share.

    thank you

  2. terima kasih sudah melihat blog saya, sebenarnya tulisan saya berdasarkan hasil bincang-bincang dengan beberapa orang keturunan Arab di daerah Ampel Surabaya, serta beberapa referensi. Pada kenyataanyya memang pernikahan yang terjadi memang berlaku untuk internal golongan. Saya memandangnya sebagai status perstise, dan egosentrisme kelompok. Kalau kita baca kehidupan masyarakat Arab sendiri, bahkan sejak masa kelahiran Nabi Muhammad. setidaknya disana sudah muncul macam-macam Bani (kaum)(ada quraisy, hasyimi, dll) atau kalau orang Jawa menyebutnya sebagai trah keturunan. Masing-masing bani akan memiliki tingkatan sosial dibandingkan dengan yang lain, entah karena didasarkan pada kekayaan material, kemampuan intelektual, sastra, atau kelebihan lainnya.
    Kondisi ini terus berlangsung sampai masa sesudah wafatnya nabi Muhammad. Bahkan dalam catatan sejarah Islam (dan Arab). Setiap pergantian khulafaur identik dengan pertumpahan daran dan pembunuhan. Semua motif berangkat dari perbedaan golongan. Secara garis besar golongan yang menganggap sebagai garis keturunan Nabi Muhammad sebagai pewaris resmi kekuasaan, sedangkan golongan diluar itu hanya sebagai pendukung saja. Ini yang tentu saja menjadi pemicu dalam perpecahan antar golongan dan kelompok.
    Ketika ditarik ke wilayah-wilayah di luar Arab, keturunan-keturunan Arab ini maish membawa egosentris dan budaya masa lalu kaumnya. Khusus yang terjadi di Indonesia, semenjak diberlakukannya Regerings Reglements tahun 1855 yang mengelompokkan ras dan bangsa di Hindia Belanda menjadi tiga golongan maka berimbas pula terhadap kelompok kedua (timur asing) termasuk keturunan Arab. Semua keturunan Arab di “lokalisir” dalam satu kawasan wilayah (ghetto), namun dalam internal kawasan tersebut ternyata banyak sekali perbedaan.
    termasuk dalam hal perkawinan. Golongan Sayyid sebagai “keturunan” Nabi tidak mau bercampur dengan golongan Qabili. Karena secara geografis, mereka bukan berasal dari Arab (terutama dari Yaman)sehingga berada diluar jalur keturunan Nabi.
    Mungkin itu rasionalisasi saja, saya berterima kasih bila ada masukan dan tambahan alasan.

  3. Saya masih belum mengerti apakah keturunan arab masih membawa egosentris dan budaya masa lalu kaumnya, yang ternyata banyak sekali perbedaan yang mungkin disebabkan banyaknya suku dan qobilah. Golongan habaib mengaku keturunan nabi, sedangkan golongan sayyid juga mengaku keturunan nabi, lalu selain golongan qobili sebenarnya di Indonesia ada berapa golongan? dan apakah keturunan arab akan semakin menjadi golongan minoritas?

  4. Sehubungan dengan pernikahan dikalangan Sayyid dan Syeh ini, yang saya tau adalah kalangan wanita sayyid tidak bisa dinikahi oleh laki-laki syeh. Bagaimana sebaliknya, apakah pria sayyid tidak bisa menikahi wanita syeh? Dan manakah yang lebih banyak jumlahnya, pria sayyid yang mengawini wanita syeh atau pria syeh yang mengawini wanita sayyid?

    Btw, artikelnya cukup menarik🙂

    Thanks

  5. yaa akhuyya….ana lagi nyusun desertasi tentang tradisi keturunan arab di Jawa Timur. Kalau antum punya referensi terkait (seperti yg ada di atas) yang lainnya,…mbok ya ana di kasih…

    musyakkir awe..
    (kang adeeb – malang)

  6. makasih artikelnya.nambah pengetahuan saya tentang budaya arab.tapi golongan sayyid masih ada lho yang tidak mau menikahkan anaknya dengan orang pribumi.

  7. akhil kiram….ana lagi mau nyusun penelitian untuk disertasi tentang bahasa arab dalam komunitas keturunan Arab di Jawa Timur. Kalau antum punya referensi terkait yang lainnya,…saya berharap diberi informasi ya atau dikasih…
    syukran
    (masruhi – yogya)

  8. Mas Exl terpengaruh dengan wilayah arab dlm konsep negara modern sekarang. Arab dulu itu satu. Tidak ada yang namanya saudi arabia dan lain. Berdasarkan literature masa lalu. arabia dibagi dalam tiga wilayah yang terdiri dari ; Wilayah selatan yang berbatasan dengan Lautan Hindia (saat ini menjadi Yaman dan Oman penduduknya termasuk Ras Arab asli)
    Wilayah bagian dalam (saat ini Saudi Wahabiyah)
    Wilayah barat-utara (saat ini Yordania dan sebagian Syiria). Supaya tdk rancu, anda harus mengetahui Wilayah yang disebut arab itu dulu. Setelah itu yang disebut org arab. Setelah itu baru anda bisa ongomong disini….

    Arab itu bisa terbagi menjadi 3 kelompok: ada Arab asli, ada mu’arrab, dan ada juga musta’rab. Sedangkan dari sisi regionalnya ada lagi, seperti para keturunan Arab yang disebut muwallad. Nah, bangsa Gypti atau mesir/Masr (Misraim) itu bukan Arab, tapi mu’arrab sama seperti bangsa Palestina, Edomite, Temanite, Asyiria, yang mendiami wilayah Trans Yordania sekarang, mereka bukan arab. Tapi Mu’arrab.

    Orang arab itu merujuk ke Kabilah, dan marga-marga mereka harus berasal dari suku2 Himyar, Kahlan, Rabi’ah, Mudhar, kindah, Hamdan, Quraisy, Aus, Khajraj, tamim, adnan dan Qohthan. Cukup ini jadi rujukan, jika mereka tidak bermuara ke kabilah yg saya sebutkan ini, mereka bukan arab.

  9. assalaumalikum..
    saya sungguh tertarik dengan artikel ini, saya juga lagi ngumpulin bahan tentang budaya orang arab terutama dalam mencari infotrmasi, seperti diketahui warga keturunan arab biasanya dalam hal mencari informasi seperti dalam hal pendidikan misalnya, mereka lebih tidak mementingka, saya akan membuat skripsi tentang hal tersebut. mohon bantuannya,syukron, kirim ke email saya jika berkenan,,,terimakasi

  10. Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
    Terima kasih atas sharing artikelnya, menambah wawasan sejarah keturunan arab di Indonesia khususnya yang di Jawa Timur. Ana sendiri berasal juga berasal dari Surabaya, dan sedang mencari referensi jejak keluarga khususnya Fam Syamlan dari Madura dan daerah yang mungkin terkait lainnya di sekitar Jawa Timur.
    Kunjungi juga http://qabail.blogspot.com

  11. saya tertarik dengan artikel anda, bagus sekali. kebetulan saya sedang menyusun tesis tentang pernikahan usia muda di kalangan arab, kalo memungkinkan dibantu untuk referensi, tentu saya sangat berterima kasih.

    Nadia

  12. Assalamu’alaikum

    Buat Akh Amir ini ada sedikit info dan untuk detailnya silahkan kontak ana.

    BIN SYAMLAN شملان

    Pecahan dari keluarga At Tamimi dari Bani Dzinnah, kediaman aslinya ada di daerah Nwahi Seyoun di Wadi Hadramawt. Dan yang paling terkenal dari keluarga ini adalah Faishol Bin Syamlan. Mentri Perminyakan terdahulu dan juga anggota DPR Yaman. (Ma’jam Buldan wal Qabaiel Yamaniyah).

  13. Soal keturunan Arab di atas, ada beberapa hal yang perlu saya share, bahwa pertama yang benar Ba’Alwi bukan Bahalwi. Ba dalam bahasa Arab, khususnya di Hadramawt berasal dari Aba, artinya anak keturunan. Sehingga yang dimaksud dengan Ba’Alwi adalah anak keturunan dari Ali RA (nama kecil/tasghier Ali adalah Alawi). Dan itu adalah menurut pengakuan mereka dan kepercayaan mereka. Jadi masalah perkawinan adalah masalah keyakinan adat istiadat yang dipegang oleh keluarga bukan berdasar agama. Dan sekarang ini sudah tidak menjadi masalah, karena ada pemahaman agama yang lebih baik. Istri dari Hidayat Nur Wahid adalah keturunan Arab, demikian juga Effendi Ghozali. Alawi dan Syaikh (Masyaikh) juga saling menikah satu sama lain.

    ” Golongan Sayyid sebagai “keturunan” Nabi tidak mau bercampur dengan golongan Qabili. Karena secara geografis, mereka bukan berasal dari Arab (terutama dari Yaman)sehingga berada diluar jalur keturunan Nabi”.

    Yang benar adalah semua Hadhariem, keturunan Arab dari Hadramawt adalah Arab Asli, sedangkan kaum Alawi ini yang tidak karena mereka ini merupakan pendatang, muhajirien dari daerah Basra/Persia waktu itu.

    Bagi yang ingin tahu banyak dan juga mencari referensi soal sejarah keturunan arab bisa kontak saya secara pribadi.

    Nabiel A.Karim Hayaze’
    hayaze76@yahoo.com

  14. artikel anda ini sangat membantu sekali, terima kasih telah berbagi informasi mengenai etnis Arab di Jawa timur:). kebetulan saya juga lagi penelitian tesis mengenai etnis arab terutama mengenai ideologi pangan. seperti yang diketahui, ideologi pangan etnis Arab berbeda dengan etnis tionghoa dan Jawa. kebetulan saya tertarik dengan ideologi pangan etnis Arab Nusantara. kalau memungkinkan, tolong dibantu share mengenai hal tersebut. danke ^-^V

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s