Komplek Pemukiman Pengrajin Batik Laweyan

Untuk menuju ke komplek pemukiman Batik Laweyan dapat ditempuh sekitar 10 menit dari kraton Kasunanan karena berjarak 10 km ke arah Barat. Kampung Laweyan saat ini mempunyai luas wilayah 24,83 Ha.Terdiri dari 20,56 Ha,tanah pekarangan dan bangunan,sedang yang berupa sungai,jalan,tanah terbuka dan kuburan luasnya 4,27 Ha. Kampung Laweyan sudah ada sejak tahun 1500 sebelum masehi. Dan sejak kerajaan Pajang, Laweyan yang berasal dari kata Lawe (bahan sandang) telah menjadi pusat perdagangan bahan sandang seperti kapas dan aneka kain. Laweyan semakin pesat ketika Kyai Ageng Henis (keturunan Brawijaya V) dan cucunya yaitu Raden Ngabehi Lor Ing Pasar/ Sutawijaya yang kelak menjadi raja pertama Mataram bermukim di Laweyan tahun 1546 M. Kyai Ageng Henislah yang kemudian mengajarkan cara membuat batik kepada masyarakat Laweyan. Lama kelamaan Laweyan berkembang menjadi pusat industri batik sejak jaman kerajaan Mataram. Dulu para saudagar batik yang tinggal di Laweyan membangun rumah besar-besar dengan tembok menjulang. Para juragan batik juga membangun lorong atau jalan rahasia di dalam rumah mereka menuju rumah juragan batik lainnya di Laweyan. Kabarnya ketika itu mereka bersikap berseberangan dengan pihak keraton. Sehingga lewat jalan-jalan rahasia mereka bisa leluasa melakukan pertemuan-pertemuan dengan sesama saudagar batik untuk membahas kondisi sosial politik saat itu.

Pada sebelum kemerdekaan kampung Laweyan memegang peranan yang sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,di Laweyan ini pada tahun 1911 muncul organisasi politik yang bernama Sarekat Dagang Islam ( SDI ) yang didirikan oleh KH. Samanhudi,dalam bidang ekonimi para pedagang batik di laweyan juga memelopori pergerakan koperasi dengan mendirikan Persatoean Peroesahaan Batik Boemiputra Soerakarta ( PPBBS ) pada tahun 1935

Kampung Laweyan atau Kelurahan Laweyan merupakan daerah yang termasuk wilayah Kecamatan laweyan yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini, Kecamatan Laweyan memiliki sebelas kelurahan, yaitu kelurahan Bumi, Jajar, Karangasem, Laweyan,Kertur, Panularan, Pajang, Purwosari, Penumping, Sondakan dan Sriwedari. kampung Laweyan merupakan pusat industri batik tradisional di Indonesia,kampung Laweyan berada kira kira 15 km di pinggiran sebelah barat daya Kota Surakarta,posisinya yang sangat strategis menjadikan kampung Laweyan sebagai daerah yang menghubungkan daerah kawasan lua kota,khususnya wilayah Kartasura dan Sukoharjo.

Laweyan merupakan sebuah kawasan kampung dagang dan pusat industri batik,yang perkembangannya dimulai sejak awal abad ke 20. Jalur utama Laweyan adalah jalan protokol kedua setelah jalan Slamet Riyadi yang menjadi penghubung antara surakarta dan Jogjakarta,apabila di bandingkan dengan wilayah Surakarta yang lain Maka Laweyan merupakan daerah yang paling kecil,baik jumlah penduduk maupun luas wilayahnya.

Selama pemerintahan Kerajaan Mataram,daerah Laweyan terdiri dari 2 wilayah yaitu Laweyan Barat dan Laweyan Timur yang di pisahkan oleh sungai Laweyan. Karakteristik penduduk antara 2 wilayah tersebut sangat berbeda,penduduk di Laweyan Barat dalam masalah ekonomi dan kebudayaan lebih banyak berhubungan dengan fasilitas yang di sediakan oleh raja,sebaliknya laweyan Timur yang di huni oleh sebagia pedagang dan pengusaha batik,lebih banyak memusatkan kegiatan pada kegiatan pasar. Pasar yang telah mati itu sekarang menjadi kampung Lor atau utara dan kidul atau selatan pasar.

Sesudah terjadi pembaharuan dalam bidang administratif daerah kerajaan pada tahun 1918,administratif Laweyan di pecah menajdi 2 bagian antara Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo,secara umum separuh wilayah bagian timur sungai masuk kecamatan kota Laweyan dan separuh barat sungai ikut kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, daerah itu sekarang menjadi kampung Belukan.
Industri batik Laweyan mengalami modernisasi, fase itu di tandai dengan munculnya gagasan para pengusaha melahirkan produk batik Sandang pada tahun 1925 dan batik Tedjo tahun1956. Sekarang secara administratif Kelurahan Laweyan atau Kampung laweyan ini termasuk di bawah kecamatan Laweyan. Kampung ini di batasi oleh sungai Jenes,Batangan dan Kabanaran, yang merupakan batas alamiah kampung Laweyan dengan daerah Kartasura serta memberikan peranannya untuk menampung pembuangan air limbah kota. Susunan pemukiman Laweyan masih mencerminkan aslinya sebagai kampung saudagar, tetapi sekarang ini pusat geografis daerah Laweyan bukan lagi pasar yang terletak di tepi sungai Laweyan, melainkan sepanjang jalan utama Laweyan yang membentang dari arah kota ke barat, jalan itu menjadi pemisah antara kampung saudagar batik sondakan di seberang utara dengan kampung Laweyan di selatan jalan. Kemudian perbatasan daerah bagian timur.
Kemudian perbatasan dengan daerah di bagian timur Laweyan, di pisahkan oleh jalan utama kampung, seperti jalan Tiga Negeri, Sidoluhur, maupun Laweyan banyak terdapat pertokoan,bengkel,warnet,dokter dan warung warung makan yang menempati bangunan gedung gedung pemukiman di tengah wilayah itu yang menjadi pusat kegiatan ekonomi. Jalan Dr. Radjiman merupakan jalur utama Laweyan yang terkenal akan batiknya . Dari ujung timur,daerah Pasar Kembang,terdapat perusahaan batik Danar Hadi, memasuki kawasan Kampung Kabangan,masih di jalan yang sama terdapat Pabrik batik Bratajaya.

Etnis dan suku yang banyak berada di Laweyan adalah suku jawa,berdasarkan kesamaan etnis, sejak jaman kerajaan Mataram, Laweyan banyak di tinggali oleh bangsa Jawa dan profesinya dalah juragan batik sampai sekarang
Mayoritas Mata Pencaharian penduduk di Laweyan sebagian besar adalah pedagang batik ini semua berkat jasa Kyai Ageng Henis, selain menyebarkan agama, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat laweyan bagaimana caranya membuat batik. Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun kini berubah menjadi produsen batik.

Kampung Laweyan adalah sentra batik yang terkenal di Kota Solo. Mayoritas penduduk di kampung ini bekerja sebagai pengrajin batik. Batik-batik itu dipajang langsung di depan rumah mereka yang disulap menjadi ruang pamer atau butik. Ada yang terlihat mewah ada pula yang sederhana. Tapi nuansa kuno tetap dipertahankan. Selain itu penduduk laweyan juga ada yang menjadi karyawan pabrik,supir becak,supir angkot dan juga PNS,mereka hidup rukun dan membantu satu sama lain

Penduduk di wilayah Laweyan Mayoritas Beragama Islam ini berkat Kyai Ageng Henis yang merupakan keturunan Brawijaya V. yang kemudian mempunyai keturunan Ki Ageng Pemanahan yang mendirikan Kerajaan Mataram di Kotagede. Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kerajaan Pajang, Kyai Ageng Henis kemudian masuk Islam. Kyai Ageng Henis bersama Sunan Kalijaga kemudian menyebarkan agama Islam di Laweyan.

Seorang tokoh yang amat disegani saat itu atas pengaruh Kyai Ageng Henis akhirnya juga masuk Islam. Beliau adalah Kyai Ageng Beluk.Setelah masuk Islam, Kyai Ageng Beluk kemudian mengubah sanggarnya menjadi sebuah masjid untuk menunjang dakwahnya. Masjid ini lah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 Masehi.Agama Islam pun menyebar dengan sangat pesat di Laweyan sampai sekarang.

Ada juga penduduk Laweyan yang beragama kristen dan Katolik tetapi jumlahnya sedikit,tetapi walau penduduk laweyan berbeda agama mereka tetap hidup rukun dan jarang terjadi pertentangan antar pemeluk agama yang berbeda. Dalam perkembangannya sebagai salah satu usaha untuk lebih mempertegas eksistensinya sebagai kawasan yang spesifik,corak bangunan di laweyan banyak di pengaruhi oleh gaya arsitektur Eropa dan Islam,sehingga banyak bermunculan bangunan yang bergaya arsitektur jawa-eropa dengan bentuk yang sederhana beroreintasi kedalam,fleksibel,berpagar tinggi lengkap dengan lantai yang bermotif karpet khas timur tengah. Keberadaan beteng tinggi ini yang banyak memunculkan gang gang sempit dan merupakan ciri khas laweyan,selain untuk keamanan,juga merupakanbentuk usaha para pedagang batik ini untuk menjaga privacy dan aman dari tindakan pencurian.

Pemukiman di kampung Laweyan terdiri dari dua kelompok besar,kelompok tersebut terbentuk berdasarkan kesamaan etnis dan mata pencaharian,penduduk Laweyan sebagian besar di dominasi oleh keturunan Jawa yang mempunyai pekerjaan sebagai juragan batik.

Kampung Laweyan sebagai pemukiman tradisional,kawasannya terbentuk dari butiran massa yang saling berdekatan membentuk jalan lingkungan yang relatif sempit. Massa banguna milik juragan batik sebagian besar terdiri dari massa bangunan besar dan sedang,bangunan tersebut biasanya di lengkapi pagar tinggi yang menyerupai beteng. Adapun massa bangunan kecil jumlahnya lebih sedikit dari sebagian besar milik pekerja batik

Fasilitas atau ruang publik di wilayah Laweyan antara lain berupa tempat terbuka,sebagian jalan (gang ),sebagian ruangan yang di gunakan untuk bimbingan les privat,mushola dan masjid,sebagai pemukiman tradisional,ruang runag tersebut terletak diantara massa bangunan yang tersusun secara padat dan berhimpitan dengan jarak yang relatif sempit,contoh ruang publik di laweyan adalah Area Makam Kramat,Masjid Baiturahim,latar jembar,Masjid Laweyan,Area Parkir Kramat,Langgar Makmur,Langgar Merdeka,Darul Arqom,Makan Ngingas,Dirham,Masjid Kirmani dan Makam Klaseman.

Ruang ruang umum milik masyarakat Laweyan ini di fungsikan sebagai suatu area untuk kegiatan bersama pada kegiatan kemasyarakatan.Masjid dan langgar selain di gunakan untuk tempat ibadah jiga di gunakan untuk kegiatan sosial dan kebudayaan masyarakat,ini karena keterbatasan ruangan,disamping masjid langgar dan dan tanah terbuka adalah milik negara,interaksi sosial juga di lakukan di tempat tempat umum seperti makam,ruangan di sisi jalan serta ruangan terbuka yang mendukung kegiatan masyarakat di Laweyan.

Pada saat industri batik di Laweyan mengalami masa kejayaan sekita tahun 1960an,kampung laweyan identik dengan sebagai suatu kawasan industri bersama,pada masa itu interaksi sosial terjadi lebih intensif. Pembatikan di lakukan di rumah rumah saudagar yang terletak di sisi utara,sedang proses pencucian dan penjemuran di lakukan di sungai dan area tepian sungai di lakukan di kawasan selatan,dalam hal ini jalan dan arena tepian sungai berfungsi sebagai area kontak sosial yang cukup efektif,pada masa itu morfologi kampung Laweyan berbentuk linier.
Seiring dengan perkembangan jaman,dengan di temukannya pompa penyedot air,produksi batik dapat di selesaikan di masing masing rumah,kondisi ini mengakibatkan berubahnya pola morfologi kawasan yang sebelumnya berbentuk linier menjadi berbentuk cluster,peran daerah sungai sebagai area kontak sosial berkurang,seiring dengan perubahan bentuk tersebut berkurang pula ruang kontak sosial masyarakatnya.

Dahulu rumah rumah penduduk Laweyan rumah rumah penduduk Laweyan saling berhubungan langsung melalui pintu pintu yang di bangun di dalam rumah yang di ebut pintu butulan diatas dan di bawah tanah,sebagian besar halaman rumah mereka juga di gunakan untuk kegiatan masyarakat,pintu butulan selain di gunakan untuk kominikasi antar warga tetapi juga du gunakan untuk keamanan,dengan bentuk rumah yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya mengakibatkan adanya rasa persaudaraan dan persatuan yang kuat diantara penduduk Laweyan.
Meskippun secara keseluruhan rumah Laweyan sebagian bear tertutup dan menimbulkan kesan angkuh,bagi orang luar,tetapi itu tidak sepenuhnya benar,di dalam rumah dengan pagar tinggi dan tertutp,terdapat suatu kegiatan sosial masyarakat dari komunitas Laweyan,ada ruang privat yang di gunakan untuk kegiatan publik di Laweyan,sehingga secara langsung maupun tidak langsung telah membentuk jalur-jalur ruang publik atau jalan alternatif yang biasa di gunakan oleh komunitas di dalamnya,dalam perkembangannya sekarang,karena adanya alih kepemilikan rumah dan adanya tuntutan kegiatan yang lain maka jalan pintas atau pintu butulan tidak pernah di gunakan lagi.

Dalam Struktur kemasyarakatan di Laweyan terdiri dari kelompok masyarakat saudagar batik atau pedagang batik,masyarakat biasa, tokohmasyarakat seperti alim ulama dan pejabat pejabat pemerintahan,selain itu ada juga golongan saudagar atau pedagang batik yang didominasi oleh pedagang wanita yang berperan penting dalam perdagangan batik di Laweyan yang di sebut Mbok Mase atau Nyah Nganten dan untuk suami disebut Mas Nganten sebagai pelengkap dari keutuhan dari rumah tangga atau keluarga.

Sebagian besar Masyarakat Laweyan masih melestarikan kesenian tradisional seperti,keroncong,wayang dan karawitan yang biasanya di mainkan ketika ada acara pernikahan,sunatan,tetakan dan kelahiran bayi yang berlangsung di daerah tersebut,dalam bidang kegiatan kerohanian atau keagamaan sebagian besar masyarakat laweyan juga sering mengadakan kegiatan keagamaan seperti,pengajian,tadarusan dan kegiatan kegiatan lain yang tidak tertentu jadwal kegiatannya
Masyarakat di laweyan menurut sejarahnya adalah masyarakat yang menghasilkan keturunannya dengan tradisi kawin saudara,yaitu menikah dengan keluarganya yang masih berhubungan darah ,tujuannya adalah harta benda yang di miliki keluarga itu tidak jatuh ketangan orang lain yang bukan saudara,selain itu pernikahan antar saudara juga bisa menciptakan suatu keluarga besar yang antinya bisa melanjutkan usaha batik mereka.

Ada banyak mitos yang ada di Laweyan,karena Laweyan penuh dengan crita sejarah yang menakjubkan,Laweyan juga bahkan usianya lebih tua dari keraton Surakarta,karena Laweyan sudah ada sebelum kerajaan Mataram berdiri,di Laweyan terdapat makam yang di keramatkan itu adalah makam Ki Ageng Henis,beliau adalah tokoh yang berjasa membuat Laweyan terkenal dengan batiknya.ketika beliau wafat makam itu di keramatkan oleh penduduk Laweyan.

Seperti makam makam tua di daerah lain,makam Ki Ageng Henis juga di keramatkan,menurut juru kunci makam tersebut,banyak pejabat pejabat di kota Solo ini yang sering meminta doa untuk mendapatkan kesuksesan,ada juga orang yang sakit kemudian berziarah ke makan tersebut dan pada akhirnya lukanya itu sembuh.
Tindakan yang di lakukan ini sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam,padahal yang sering berziarah ke makam ini adalah orang Islam,tetapi banyak sekali orang percaya,karena pernah suatu ketika,pada malam hari menurut juru kunci makam tersebut,ada pejabat yang minta di doakan di makam tersebut,keesokan harinya dia mendapat jabatan yang penting,ada juga orang tua yang patah kakinya,tetapi dia tidak mau ke doker,dan malah pergi ke makam Ki Ageng Henis dan langsung sembuh.
Kejadian semacam ini sbenarnya tidak masuk akal,tetapi masyarakat Jawa sudah terlalu percaya dengan hal hal semacam ini dan hal ini sebenarnya bertentangan dengan agama Islam agama yang juga sebenarnya di anut oleh orang orang yang berziarah tersebut,kita sebagai muslim harus tahu mana ajaran yang di perbolehkan maupun yang di larang oleh Allah SWT.

Mitos lain yang cukup terkenal di Laweyan adalah mengenai Bau Laweyan, keturunan yang mempunyai julukan Bau Laweyan ini adalah seorang wanita atau kalau di Laweyan di sebut Mbok Mase,keturunan wanita yang mempunyai ciri Bau Laweyan ini adalah wanita ini mempunyai ciri tompel atau titik hitam sebesar uang logam di Bahu kirinya,wanita atau keturunan ini mempunyai ciri yaitu kebal terhadap berbagai ilmu hitam dan pendiam namun apabila ia melakukan hubungan intim dengan suaminya,suaminya itu pasti mati secara mengenaskan.Mitos ini sebenarnya belum terbukti atau seperti fiksi tetapi masyarakat sudah begitu percaya sehingga apabila ada anak perempuan yang memilki ciri tersebut pasti di jauhi dan tidak ada yang ma menikah dengannya. Kita sebagai umat muslim wajib menjauhi hal hal yang seperti ini hanya Allah lah yang menentukan hidup mati seseorang dan ini merupakan perangkap dari Iblis yang berusaha mengaajak manusia untuk berbuat dosa seperti dirinya,maka dari itu kita sebagau umat muslim wajib menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

Sebagian besar rumah penduduk yang memiliki arsitektur model kolonial dan termasuk rumah lama menjadi tempat penjualan batik Laweyan. Konsep desa batik Laweyan ini menjadikan rumah-rumah lama yang khas sebagai butik. Namun karena perkembangan zaman dan kebutuhan maka banyak ruah yang semula besar kemudian dibagi-bagi karena merupakan harta warisan. Sehingga banyak rumah lama yang kemudian dipetak-petak dipergunakan oleh keluarga yang berbeda meski masih bersaudara. Sehingga kadang-kadang dalam satu rumah besar sudah tidak cocok lagi dalam penataan ruangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s